LINE BALANCING
Line balancing merupakan metode untuk memecahkan masalah penentuan jumlah
orang atau mesin beserta tugas-tugas yang diberikan dalam suatu lintasan
produksi. Definisi lain dari line balancing yaitu sekelompok orang atau
mesin yang melakukan tugas-tugas sekuensial dalam merakit suatu produk yang
diberikan kepada masing-masing sumber daya secara seimbang dalam setiap
lintasan produksi, sehingga dicapai efisiensi kerja yang tinggi di setiap stasiun
kerja. Fungsi dari line balancing adalah
membuat suatu lintasan yang seimbang. Tujuan pokok dari penyeimbangan lintasan
adalah memaksimalkan kecepatan di tiap stasiun kerja, sehingga dicapai
efisiensi kerja yang tinggi di tiap stasiun kerja tersebut (Baroto, 2002).
Dua
permasalahan penting dalam penyeimbangan lini, yaitu penyeimbangan antara
stasiun kerja (work station) dan menjaga kelangsungan produksi di dalam
lini perakitan. Adapun tanda-tanda ketidakseimbangan pada suatu
lintasan produksi adalah stasiun kerja yang sibuk dan waktu menganggur yang
mencolok dan adanya produk setengah jadi pada beberapa stasiun kerja. Terdapat
10 langkah pemecahan masalah line balancing. Kesepuluh langkah pemecahan
masalah line balancing adalah mengidentifikasi tugas-tugas individual
atau aktivitas yang akan dilakukan. Menentukan waktu yang dibutuhkan untuk
melaksanakan setiap tugas itu. Menetapkan precedence constraints, jika
ada yang berkaitan dengan setiap tugas. Menentukan output dari assembly
line yang dibutuhkan. Menentukan waktu total yang tersedia untuk
memproduksi output. Menghitung cycle time yang dibutuhkan,
misalnya waktu diantara penyelesaian produk yang dibutuhkan untuk penyelesaian output
yang diinginkan dalam batas toleransi dari waktu (batas waktu yang diizinkan). Memberikan
tugas-tugas pada pekerja dan/ atau mesin. Menetapkan minimum banyaknya stasiun
kerja (work stations) yang dibutuhkan untuk memproduksi output
yang diinginkan. Menilai efektivitas dan efisiensi dari solusi. Mencari
terobosan-terobosan untuk untuk perbaikan proses terus-menerus (Baroto, 2002).
Permasalahan line balancing dapat diselesaikan dengan
beberapa metode. Metode-metode yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah dalam line
balancing, yaitu metode heuristic (metode yang berdasarkan
pengalaman, intuisi atau aturan-aturan empiris untuk memperoleh solusi yang
lebih baik daripada solusi yang telah dicapai sebelumnya). Metode-metode
heuristik yang digunakan untuk pemecahan masalah line balancing, yaitu ranked positional weight atau hegelson and birnie, kilbridge`s and waste atau region approach, large candidate rule, dan al arcu`s. Metode analitik atau matematis
adalah metode
penggambaran dunia nyata melalui simbol-simbol matematis berupa persamaan
dan pertidaksamaan, serta metode simulasi dimana meniru tingkah laku sistem dengan mempelajari
interaksi komponen-komponennya karena tidak memerlukan fungsi-fungsi matematis
secara eksplisit untuk merelasikan variabel-variabel sistem, maka model-model
simulasi ini dapat digunakan untuk memecahkan sistem kompleks yang tidak dapat
diselesaikan secara matematis. Metode-metode simulasi yang digunakan untuk
pemecahan masalah line balancing, yaitu CALB (Computer Assembly Line Balancing or Computer
Aided Line Balancing), ALPACA (Assembly
Line Balancing and Control Activity), dan COMSAL (Computer Method or Saumming Operation for Assemble)
(Elsayet, 1989).
Permasalahan ini diasumsikan ada serangkaian proses dalam lini
perakitan. Setiap proses memiliki waktu operasi yang berbeda-beda. Batasan
keterdahuluan (precedence constraint) yakni sejumlah proses baru dapat
dilakukan setelah proses prasyarat -nya (predecessor) selesai. Tujuan
dari permasalahan ini adalah menentukan pengelompokan proses-proses pada lini
perakitan menjadi stasiun-stasiun kerja yang akan memaksimumkan efisiensi lini
perakitan tersebut. Pada permasalahan ini juga dapat ditambahkan kendala
seperti jumlah maksimum stasiun kerja atau kecepatan minimum lini perakitan
(waktu operasi maksimum lini perakitan). Secara ringkas assembly line balancing mempunyai beberapa karakteristik.
Karakteristik tersebut meliputi adanya sejumlah proses dalam lini perakitan dengan
waktu proses masing-masing, adanya kendala keterdahuluan (precedence
constraint) yang memaksa sebagian proses baru bisa dimulai setelah proses
prasyaratnya selesai, bisa ada kendala tambahan seperti jumlah maksium stasiun
kerja atau kecepatan minimum lini perakitan, tujuannya adalah pengelompokan
proses-proses perakitan menjadi stasiun-stasiun kerja tanpa melanggar kendala
keterdahuluan demi tercapai efisiensi lini perakitan maksimum
Terdapat beberapa istilah
yang biasa digunakan dalam line balancing. Precedence diagram
merupakan gambaran secara grafis dari urutan operasi kerja, serta
ketergantungan pada operasi kerja lainnya yang tujuannya mempermudahkan
pengontrolan dan perencanaan kegiatan yang terkait di dalamnya. Work element
atau elemen kerja merupakan bagian dari seluruh proses perakitan yang
dilakukan. Waktu operasi adalah waktu standar untuk menyelesaikan suatu
operasi. Cycle time adalah waktu yang diperlukan untuk membuat satu unit
produk per satustasiun. Work station adalah tempat pada lini perakitan
dimana proses perakitan dilakukan. Efisiensi work station digunakan
untuk mengetahui persentase perbandingan antara total waktu dalam work
station dengan cycle time. Station time merupakan jumlah
waktu dari elemen kerja yang dilakukan pada suatu stasiun kerja yang sama,
sedangkan idle time merupakan selisih antara cycle time dengan station
time. Line efficiency adalah rasio dari total waktu di stasiun kerja
dibagi dengan waktu siklus dikalikan jumlah stasiun kerja. Balance
delay digunakan untuk mengetahui seberapa besar waktu menganggur dalam
suatu lintasan produk. Smoothness index merupakan cara untuk
mengukur tingkat kelancaran relatif dari suatu lini perakitan (Hartini, 2010)
Komentar
Posting Komentar